berita1.id, Batam – Kinerja investasi Batam menunjukkan tren positif sepanjang Semester I 2026. Berdasarkan penghitungan dengan metode bottom-up BP Batam, realisasi investasi periode Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp38,97 triliun.
Angka tersebut setara dengan 55,67 persen dari target investasi Batam tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp70 triliun. Capaian itu juga tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan, pertumbuhan investasi tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat kepastian dan kemudahan berusaha di Batam.
“Sebagaimana arahan Presiden Prabowo, kepastian dan kemudahan berusaha menjadi faktor penting dalam menarik investasi. Hal ini yang saya dan Bu Li Claudia terus bangun untuk mendorong pertumbuhan ekosistem industri di Batam,” tegas Amsakar, Kamis (20/8).
Pertumbuhan investasi tersebut ditopang peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 53,68 persen dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tumbuh 78,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Amsakar, peningkatan investasi tidak semata-mata dilihat dari besarnya nilai penanaman modal. Lebih dari itu, pemerintah perlu memastikan iklim usaha yang memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor.
Karena itu, BP Batam terus mendorong pengembangan sektor-sektor bernilai tambah. Di antaranya industri digital dan kreatif, kedirgantaraan, logistik internasional, perdagangan dan keuangan internasional, pariwisata kesehatan, serta industri ringan.
“Kami tidak hanya mengejar angka investasi, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang semakin mudah, transparan dan kompetitif,” tambah Amsakar.
Sementara itu, Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan, penguatan investasi juga dilakukan melalui sejumlah program strategis, salah satunya konsep Wilayah Penataan dan Pengembangan (WPP).
Konsep tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan baru, meningkatkan nilai kawasan, memperkuat daya saing investasi, sekaligus mendukung transformasi Batam menjadi kota ekonomi modern.
“Target saya dan Pak Amsakar bukan hanya sekadar menjadikan Batam sebagai tempat investor menanamkan modal. Kami ingin Batam menjadi tempat yang memberikan kepastian untuk tumbuh, ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Li Claudia.
Ia menambahkan, pertumbuhan investasi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat aktivitas ekonomi Batam. Karena itu, peningkatan investasi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kawasan dan penguatan ekosistem usaha.
Dengan demikian, manfaat investasi tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal, tetapi juga dari pergerakan ekonomi, pertumbuhan dunia usaha, hingga terbukanya peluang bagi masyarakat.
“Di balik setiap investasi, ada harapan agar ekonomi bergerak, dunia usaha tumbuh, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (*)



















