berita1.id, Batam – Air mata Watina Lala mengalir tanpa henti ketika menggendong putri bungsunya, Helena Tabintang Dakhi. Di usia yang baru delapan bulan, bayi itu harus bertahan hidup dengan hidrosefalus, kelainan akibat penumpukan cairan serebrospinal di dalam otak yang menyebabkan tekanan di rongga kepala hingga ukuran kepalanya terus membesar. Namun, bukan hanya penyakit yang harus dihadapi keluarga kecil itu. Keterbatasan ekonomi membuat pengobatan Helena selama ini tertunda.
“Saya sudah putus asa. Sempat terpikir membuang anak saya ini. Tapi saya ingat, ini anak yang saya lahirkan. Saya tidak tega,” kata Watina dengan suara bergetar saat menerima kunjungan Tim Kesehatan Polresta Barelang di rumah kontrakannya di Kavling Senjulung, RT 02/RW 09, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kamis (9/7).
Watina bercerita, kondisi putrinya mulai berubah ketika baru berusia sekitar satu minggu. Kepala Helena perlahan membesar. Setelah diperiksa tenaga medis, bayi tersebut didiagnosis menderita hidrosefalus.
Sejak saat itu, perjuangan Watina semakin berat. Ibu tiga anak tersebut hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, ia mengaku kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga sebelum akhirnya sang suami, Saderakhi Dakhi, meninggalkan rumah.
Biaya pengobatan yang tidak sanggup dipenuhi membuat Helena tak kunjung mendapatkan penanganan medis yang memadai. Hari demi hari, Watina hanya bisa menyaksikan kepala putrinya terus membesar tanpa mampu berbuat banyak.
Di tengah kebuntuan itu, Watina memberanikan diri meminta pertolongan kepada tetangganya. Laporan tersebut kemudian diteruskan ke Polsek Nongsa hingga akhirnya sampai kepada Kapolresta Barelang.
Merespons laporan tersebut, Kapolresta Barelang memerintahkan Tim Dokkes untuk mendatangi kediaman Watina sekaligus memberikan bantuan.
Kasidokkes Polresta Barelang Iptu dr Syarifah mengatakan, pihaknya menemukan Helena belum memperoleh pengobatan karena persoalan biaya.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, ibu ini mengalami kendala biaya sehingga bayinya belum mendapatkan penanganan medis. Karena itu kami segera turun membantu,” ujar Syarifah.
Dalam kunjungan itu, tim memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan atas nama Helena telah aktif sehingga bayi tersebut dapat segera menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
“Langkah awal, bayi akan dibawa ke Puskesmas Kampung Jabi untuk mendapatkan penanganan medis. Selanjutnya akan dirujuk sesuai hasil pemeriksaan dokter,” kata Syarifah.
Selain memastikan akses layanan kesehatan, Polresta Barelang juga menyerahkan bantuan berupa susu, bubur bayi, popok, dan paket sembako.
Menurut Syarifah, pihaknya juga akan memberikan kereta dorong bayi (baby stroller) agar Helena lebih mudah dibawa berobat mengingat ukuran kepalanya yang terus membesar.
“Nanti stroller akan kami serahkan setelah ukuran yang sesuai sudah kami siapkan,” ujarnya.
Bagi Watina, bantuan tersebut menjadi titik terang setelah berbulan-bulan hidup dalam kecemasan. Yang paling ia harapkan bukan sekadar bantuan kebutuhan sehari-hari, melainkan kesempatan agar putrinya dapat memperoleh penanganan medis dan memiliki peluang untuk tumbuh lebih baik. (*)



















