Geliat Investasi Batam Makin Kuat, Rp38,97 Triliun Terealisasi hingga Semester I

Hingga Semester I 2026, realisasi investasi Batam mencapai Rp38,97 triliun berdasarkan metode bottom-up BP Batam. Sementara berdasarkan LKPM, realisasinya tercatat Rp29,89 triliun. Pertumbuhan investasi ini turut membuka lebih banyak kesempatan kerja. Jumlah tenaga kerja meningkat dari 30.979 orang menjadi 40.943 orang, atau bertambah 9.964 orang dalam setahun.
banner 120x600
banner 468x60

berita1.id, Batam – Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi refleksi perjalanan Batam yang terus bergerak maju. Di tengah persaingan kawasan investasi yang semakin ketat, Batam menunjukkan kinerja positif dengan realisasi investasi yang terus meningkat sepanjang 2026.

Di bawah kepemimpinan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, penguatan investasi terus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas logistik, serta kemudahan berusaha.

banner 325x300

Hingga Semester I 2026, realisasi investasi Batam berdasarkan pemantauan dengan metode bottom-up BP Batam telah mencapai Rp38,97 triliun. Sementara berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), realisasi investasi tercatat sebesar Rp29,89 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan geliat investasi di Batam masih berada dalam tren positif. Sekaligus menjadi gambaran semakin kuatnya kepercayaan dunia usaha terhadap Batam sebagai salah satu kawasan strategis investasi di Indonesia.

Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan, capaian investasi tersebut menjadi cerminan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam.

Menurutnya, investasi tidak semata-mata dilihat dari besarnya nilai yang masuk. Lebih dari itu, investasi harus mampu direalisasikan, menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan industri, dan memberikan dampak nyata terhadap masyarakat.

“Kepercayaan dunia usaha terhadap Batam terus menguat. Tugas kita adalah memastikan kepercayaan tersebut dijawab dengan pelayanan yang semakin baik, kepastian berusaha dan pembangunan infrastruktur yang mendukung kebutuhan investor,” ujar Amsakar.

Sebelumnya, pada Triwulan I 2026, realisasi investasi Batam telah mencapai Rp17,48 triliun. Angka tersebut tumbuh 102,85 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Pertumbuhan itu hampir 14 kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi nasional yang tercatat sebesar 7,2 persen. Pada periode yang sama, Batam juga berkontribusi sekitar 26,5 persen terhadap tambahan investasi nasional.

Target Rp70 Triliun

Memasuki paruh kedua 2026, capaian tersebut menjadi modal penting bagi BP Batam untuk menjaga momentum pertumbuhan investasi hingga akhir tahun.

BP Batam menargetkan realisasi investasi Batam sepanjang 2026 mencapai Rp70 triliun.

Berdasarkan LKPM, realisasi Semester I sebesar Rp29,89 triliun telah mencapai 42,70 persen dari target tahunan. Sementara berdasarkan metode bottom-up BP Batam, capaian Rp38,97 triliun sudah mencapai 55,67 persen dari target.

Amsakar menegaskan, capaian tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka statistik.

“Kita tidak boleh berhenti pada angka. Yang paling penting adalah bagaimana investasi ini terus bergerak, proyeknya terealisasi, lapangan kerja tercipta, industri berkembang, dan memberikan multiplier effect bagi ekonomi Batam,” katanya.

Karena itu, BP Batam akan terus memperkuat kemudahan berusaha, kepastian regulasi, percepatan pelayanan, serta pembangunan infrastruktur untuk menjaga daya saing Batam.

Pelayanan Jadi Kunci

Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menilai peningkatan investasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada dunia usaha.

Menurutnya, investor membutuhkan kepastian sejak tahap awal penanaman modal hingga proyek dapat beroperasi.

“Pelayanan publik harus cepat, kolaborasi lintas instansi juga semakin kuat, serta berbagai hambatan investasi diselesaikan secara cepat dan terukur. Ini menjadi faktor penting untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi investor,” ujar Li Claudia.

Ia menegaskan, BP Batam bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus memperkuat koordinasi agar berbagai kebutuhan investor dapat direspons secara cepat.

“Kita ingin investor tidak hanya datang ke Batam, tetapi juga merasa nyaman untuk berkembang dan melakukan ekspansi di Batam,” tambahnya.

Bagi Li Claudia, keberhasilan investasi pada akhirnya harus terlihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Mulai dari penciptaan lapangan kerja, penguatan industri lokal, peningkatan aktivitas ekonomi hingga meningkatnya daya saing Batam.

Serapan Tenaga Kerja Meningkat

Geliat investasi tersebut juga mulai terlihat dari peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Jumlah tenaga kerja yang tercatat pada Semester I 2026 mencapai 40.943 orang, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 30.979 orang.

Artinya, terdapat tambahan sekitar 9.964 tenaga kerja, atau tumbuh 32,16 persen.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investasi yang masuk ke Batam semakin terkoneksi dengan aktivitas ekonomi riil.

Ketika proyek berkembang, industri memasuki tahap produksi dan kegiatan usaha meningkat, kebutuhan tenaga kerja pun ikut bertambah.

LKPM Rp29,89 Triliun, Bottom-Up Rp38,97 Triliun

Berdasarkan data LKPM, realisasi investasi Triwulan I 2026 mencapai Rp17,48 triliun. Kemudian pada Triwulan II terdapat tambahan investasi sebesar Rp12,41 triliun.

Dengan demikian, total realisasi investasi sepanjang Semester I mencapai Rp29,89 triliun.

Realisasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp12,09 triliun.

Jika dibandingkan dengan Semester I 2025, capaian tersebut tumbuh 27,31 persen secara year-on-year, sementara pertumbuhan secara kumulatif tercatat 62,75 persen.

Di sisi lain, berdasarkan metode bottom-up BP Batam, realisasi investasi Semester I mencapai Rp38,97 triliun. Angka tersebut terdiri dari Rp36,58 triliun modal tetap dan Rp2,39 triliun modal lancar.

Capaian itu tumbuh 36,03 persen secara year-on-year dan 57,01 persen secara kumulatif.

Perbedaan antara angka LKPM dan metode bottom-up BP Batam merupakan konsekuensi dari perbedaan basis pengukuran. Kedua metode tersebut digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan dan realisasi aktivitas investasi di Batam.

Dorong Investasi Bernilai Tambah Tinggi

Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan, arah pengembangan investasi Batam ke depan tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga kualitas dan nilai tambahnya.

Batam dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan investasi di sektor manufaktur berteknologi tinggi, pusat data atau data center, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), energi, logistik hingga industri hilir.

“Batam bukan hanya kawasan industri, tetapi telah berkembang menjadi pusat eksekusi investasi strategis Indonesia,” kata Fary.

Ia menambahkan, BP Batam akan terus mengawal implementasi berbagai proyek strategis sehingga investasi yang telah masuk dapat segera memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.

Dengan capaian Semester I yang telah melewati separuh target berdasarkan metode bottom-up, BP Batam optimistis tren positif investasi dapat terus dipertahankan hingga penghujung 2026.

Bagi Amsakar, pertumbuhan investasi bukan sekadar indikator kinerja pemerintah, tetapi juga sinyal positif bagi masa depan ekonomi Batam.

“Batam harus terus tumbuh sebagai kota investasi yang kompetitif, produktif dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Kita jaga kepercayaan investor, kita percepat realisasi investasi, dan kita pastikan pertumbuhan ekonomi Batam semakin kuat,” pungkas Amsakar.

Dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan, Batam terus memperkuat posisinya sebagai gerbang investasi Indonesia menuju Asia Tenggara. (*)

banner 325x300
Carousels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *