berita1.id, Jakarta – Kementerian Pertanian mempercepat penerapan sistem Pertanian Modern PM-AAS sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil uji coba selama dua tahun, metode budidaya tersebut diklaim mampu meningkatkan pendapatan petani lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan transformasi pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan petani memperoleh keuntungan yang lebih besar. Karena itu, penerapan PM-AAS akan diperluas, terutama di kawasan sawah beririgasi.
“Hari ini kami kumpulkan kepala dinas, direktur wilayah, dan PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah melakukan akselerasi intensifikasi melalui pertanian modern. Yang kita kejar adalah kesejahteraan petani. Pertanian modern harus bertransformasi menjadi pertanian yang menjadikan petani sejahtera,” ujar Amran saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Pertanian, kepala dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (9/7).
Menurut Amran, metode PM-AAS telah diuji pada lahan seluas sekitar 1.600 hektare di sejumlah sentra produksi padi. Hasilnya, produktivitas mencapai 9 hingga 12 ton gabah per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas nasional yang berkisar 5,5 ton per hektare.
Ia menjelaskan, jika produktivitas meningkat tiga ton per hektare pada satu juta hektare sawah beririgasi dengan indeks pertanaman tiga kali setahun, tambahan produksi beras nasional diperkirakan dapat mencapai sekitar lima juta ton.
Selain meningkatkan hasil panen, PM-AAS juga dinilai mampu memperbaiki pendapatan petani. Berdasarkan analisis usaha tani Kementerian Pertanian, biaya produksi pada sistem konvensional sekitar Rp13 juta per hektare dengan produksi rata-rata 5,2 ton gabah. Dari kondisi tersebut, petani memperoleh keuntungan sekitar Rp20,79 juta per musim tanam atau setara sekitar Rp5,19 juta per bulan.
Sementara itu, melalui sistem PM-AAS, biaya produksi meningkat menjadi sekitar Rp15,17 juta per hektare. Namun, produksi mampu mencapai 12,4 ton per hektare sehingga keuntungan petani meningkat menjadi sekitar Rp65,43 juta per musim tanam atau setara Rp16,36 juta per bulan.
“Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar,” kata Amran.
PM-AAS merupakan metode budidaya yang menggabungkan sistem tanam Arkansas dengan pola jajar legowo. Menurut Amran, kombinasi tersebut mampu meningkatkan populasi tanaman dari sekitar 320.000–360.000 batang menjadi sekitar satu juta batang per hektare, sehingga produktivitas meningkat tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan tanaman.
Metode ini juga menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung sehingga proses persemaian dan pencabutan bibit tidak lagi diperlukan. Dengan demikian, kebutuhan tenaga kerja dapat ditekan dan proses budidaya menjadi lebih efisien.
Pada tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan penerapan PM-AAS di sekitar 4,9 juta hektare sawah beririgasi. Ke depan, Kementerian Pertanian juga akan mengembangkan pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan drone untuk penanaman maupun pengangkutan hasil panen di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
Amran optimistis transformasi pertanian modern akan memperkuat swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Menurut dia, ketika usaha tani semakin menguntungkan, petani akan terdorong untuk terus meningkatkan produksi. (*)



















