berita1.id, Batam – Persoalan banjir di Batam mulai ditangani dengan skema yang lebih menyeluruh. Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyiapkan anggaran untuk menangani 167 titik prioritas banjir yang tersebar di sejumlah kawasan.
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika banjir terjadi. Sejumlah pekerjaan infrastruktur kini dikebut, sementara titik lain disiapkan untuk ditangani dalam tahun anggaran berikutnya.
“Kami betul-betul memberikan atensi terhadap persoalan banjir. Penanganannya harus konkret dan terukur sehingga penyelesaiannya secara menyeluruh,” kata Amsakar saat memimpin rapat percepatan penanganan banjir di Kantor Pemerintah Kota Batam, Kamis (1/10).
Sejumlah pekerjaan bahkan sudah menunjukkan progres. Empat proyek penanganan banjir yang berada di kawasan rawan saat ini rata-rata telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Empat pekerjaan tersebut yakni normalisasi dan peningkatan drainase di Simpang Kepri Mall, drainase Sei Beduk, drainase Jalan R. Suprapto kawasan Sawang Permai, Batu Aji, serta drainase Makam Pahlawan–RS Graha Hermine, Batu Aji.
Hasil pekerjaan mulai terlihat. Saat hujan berintensitas tinggi mengguyur Batam pada 22 September lalu selama kurang lebih dua jam, sejumlah kawasan yang sebelumnya rawan meluap tersebut tidak mengalami genangan seperti yang dikhawatirkan.
Amsakar menilai kondisi itu menjadi indikasi awal bahwa pembenahan infrastruktur mulai memberikan dampak terhadap persoalan banjir.
“Ini menunjukkan pekerjaan yang kita lakukan mulai memberikan dampak. Tetapi pekerjaan harus tetap dituntaskan dan titik-titik lainnya juga harus terus ditangani,” ujarnya.
Namun, pekerjaan tidak berhenti di empat lokasi tersebut. Kawasan Bengkong Indah Swadebi juga menjadi salah satu perhatian karena membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.
Untuk kawasan tersebut, BP Batam dan Pemko Batam menyiapkan tiga pekerjaan utama yang direncanakan masuk dalam Tahun Anggaran 2027. Ketiganya yakni pembangunan kolam retensi di Cahaya Garden, dua segmen kanal banjir, serta rumah pompa Bengkong di bagian hilir.
Skema tersebut disiapkan untuk menangani air sejak dari kawasan hulu hingga pembuangannya di bagian hilir. Dengan begitu, penanganan tidak hanya berfokus pada saluran yang meluap, tetapi juga pada kapasitas tampungan dan sistem pemompaan.
“Untuk Bengkong, kita siapkan penanganannya secara lebih menyeluruh. Saya minta Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air bersinergi dengan Deputi Infrastruktur BP Batam menyiapkan ini dengan baik dan matang. Dengan solusi kolam retensi, kanal banjir dan rumah pompa, persoalan genangan di kawasan tersebut diharapkan dapat tertangani dengan optimal,” jelas Amsakar.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, mengatakan pemetaan titik rawan banjir akan terus dilakukan. Setiap lokasi akan ditangani berdasarkan kondisi dan tingkat kebutuhan masing-masing kawasan.
Menurut dia, penanganan tidak bisa dilakukan sekaligus. Namun, pekerjaan yang sudah berjalan harus dievaluasi untuk melihat efektivitasnya, sementara titik lain yang membutuhkan intervensi harus segera ditindaklanjuti.
“Kami ingin penanganan ini dilakukan secara bertahap tetapi konsisten. Apa yang sudah dikerjakan harus dievaluasi dampaknya, sementara titik lain yang membutuhkan penanganan harus segera ditindaklanjuti. Tujuannya sederhana, yaitu mengurangi genangan dan memberikan rasa aman serta kenyamanan bagi masyarakat,” ujarnya.
Li Claudia juga meminta perangkat di masing-masing wilayah aktif melaporkan titik banjir yang dinilai krusial. Data tersebut akan menjadi bagian dari pemetaan tingkat kerentanan sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Evaluasi juga akan dilakukan secara berkala untuk memastikan pekerjaan yang telah dilakukan benar-benar memberikan dampak dan tidak berhenti pada penyelesaian fisik semata.
Di sisi lain, pemerintah juga mengingatkan bahwa persoalan banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur. Kondisi drainase dan lingkungan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Li Claudia mengajak warga menjaga saluran air, terutama dengan tidak membuang sampah ke drainase. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan saluran tersumbat atau kondisi lain yang berpotensi memicu genangan.
“Tentu dukungan masyarakat sangat penting untuk menjaga drainase dan lingkungan, agar upaya yang dilakukan dapat memberikan hasil maksimal,” ucapnya. (*)



















