Pasokan Air Warga Jadi Prioritas, BP Batam Siapkan SWRO hingga Waduk Baru

BP Batam menegaskan kewajiban pengembang data centre membangun dan mengoperasikan instalasi desalinasi air laut secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan operasional penuh.
banner 120x600
banner 468x60

berita1.id, Batam – Penurunan muka air Waduk Nongsa di tengah minimnya curah hujan memaksa Badan Pengusahaan (BP) Batam mempercepat sejumlah langkah untuk menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat. Mulai dari mengalirkan air dari embung Kebun Raya Nongsa, menghubungkan jaringan distribusi ant waduk, hingga memasang pompa penguat, upaya darurat dilakukan agar air tetap menjangkau rumah warga.

Di tengah persoalan tersebut, BP Batam juga menegaskan bahwa pengembangan industri data centre di Batam harus memperhitungkan ketersediaan air. Para pengembang diwajibkan membangun dan mengoperasikan instalasi desalinasi air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan operasional penuh secara mandiri.

banner 325x300

“Fokus utama BP Batam saat ini adalah memastikan air sampai ke rumah-rumah warga. Kami terus menggesa percepatan pemasangan mini booster pump dan penguatan jaringan terintegrasi agar gangguan suplai akibat dampak kekeringan El Niño pada Waduk Nongsa dapat segera teratasi secara optimal,” ujar Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, Rabu (14/10).

Untuk mengantisipasi penurunan tinggi muka air (TMA) Waduk Nongsa, BP Batam telah mengalirkan air dari embung Kebun Raya Nongsa melalui jaringan pipa transmisi air baku menuju waduk tersebut.

Penguatan juga dilakukan pada jaringan distribusi melalui pemasangan pipa interkoneksi yang menghubungkan jalur distribusi dari Waduk Duriangkang dengan jaringan distribusi kawasan Nongsa. Langkah ini diharapkan membantu memperkuat pasokan ke wilayah yang terdampak.

Selain itu, pemasangan mini booster pump tengah dilakukan untuk meningkatkan tekanan aliran menuju kawasan dengan elevasi tinggi dan ujung jaringan atau end-line. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Perumahan Renggali, Citra Nongsa, Taman Yose, Prasetya, serta kawasan Sambau yang berada di elevasi tinggi.

Sembari menunggu penguatan infrastruktur tersebut, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) meningkatkan frekuensi pengiriman air menggunakan mobil tangki ke permukiman terdampak. Distribusi ini menjadi langkah sementara untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ariastuty memahami kekhawatiran masyarakat akibat gangguan pasokan air. Menurutnya, minimnya curah hujan di wilayah Nongsa berdampak pada debit sumber air baku. Kondisi itu terjadi ketika kebutuhan air juga terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.

Karena itu, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan distribusi darurat. Perbaikan jaringan, optimalisasi sumber air baku, dan penguatan infrastruktur dinilai perlu berjalan bersamaan agar kontinuitas layanan dapat terjaga.

Di tengah persoalan pasokan air tersebut, kebutuhan air untuk industri data centre turut menjadi perhatian publik. BP Batam menegaskan, pengembangan ekosistem pusat data di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP) maupun kawasan industri Kabil diarahkan menggunakan sistem pengelolaan air mandiri berbasis teknologi SWRO.

“Secara teknis, pengembangan ekosistem data centre di KEK Nongsa Digital Park maupun kawasan industri Kabil telah didorong menggunakan model pengelolaan air mandiri berbasis teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO),” kata Ariastuty.

Teknologi SWRO mengolah air laut melalui proses desalinasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air sesuai standar penggunaan yang ditetapkan. Dengan sistem tersebut, kebutuhan operasional industri diharapkan tidak bergantung sepenuhnya pada sumber air baku yang juga digunakan untuk melayani masyarakat.

Ariastuty menjelaskan, selama tahap konstruksi dan persiapan fasilitas, dukungan pasokan air dari Waduk Duriangkang diberikan secara sementara dan sangat terbatas. Untuk operasional penuh, setiap pengembang data centre diwajibkan membangun dan memfungsikan instalasi SWRO secara mandiri.

BP Batam juga menyebut Nongsa Digital Park telah memiliki embung internal untuk kebutuhan pemeliharaan kawasan. Namun, status pengembangan masing-masing proyek perlu dibedakan agar kebutuhan air aktual tidak disamakan dengan kebutuhan yang masih berupa rencana investasi.

Berdasarkan data yang disampaikan BP Batam, dari proyek data centre yang terdata di Batam, satu telah beroperasi, satu masih dalam tahap konstruksi, dan empat lainnya berada pada tahap rencana konstruksi. Di kawasan Nongsa, terdapat pula dua pelaku usaha lain yang masih dalam tahap rencana pengembangan. Sementara itu, dua pelaku usaha di kawasan Kabil juga belum beroperasi atau masih dalam tahap rencana konstruksi.

“Kami memandang penting penyampaian informasi yang akurat mengenai status pembangunan dan kebutuhan utilitas ini dilakukan. Sehingga, dapat dibedakan perencanaan pengembangan proyek masa mendatang dengan pemakaian aktual saat ini,” tambah Ariastuty.

Selain langkah darurat di Nongsa, BP Batam menyiapkan sejumlah upaya untuk memperkuat ketahanan air Batam dalam jangka menengah dan panjang.

Salah satunya melalui pembahasan pelaksanaan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB dengan koordinasi BMKG. Upaya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang hujan untuk mendukung ketersediaan air baku, dengan tetap mempertimbangkan kondisi meteorologis.

BP Batam juga menindaklanjuti arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra terkait revitalisasi pipa distribusi serta pengalihan prioritas anggaran infrastruktur untuk memperkuat layanan air bersih.

Pemasangan sistem pemantauan SPAM berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) turut menjadi prioritas. Sistem ini dapat membantu memantau kondisi operasional jaringan dan mendeteksi indikasi kebocoran sehingga penanganan gangguan bisa dilakukan lebih cepat.

Di sisi lain, BP Batam membuka peluang kemitraan dengan pihak swasta maupun instansi pemerintah, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai (BWS). Kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi SWRO serta penjajakan potensi pasokan air dari Lingga dan Bintan.

“Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Kepala BP Batam, kami membuka berbagai alternatif kerja sama kemitraan dalam rangka meningkatkan performa dan ketahanan air bagi masyarakat Kota Batam. Para investor swasta ataupun pemerintahan, kami membuka peluang itu untuk kepentingan masyarakat,” ujar Ariastuty.

Untuk jangka panjang, pembangunan waduk baru juga masuk dalam rencana penguatan pasokan air. BP Batam memperkirakan proses pembangunan hingga waduk dapat dimanfaatkan membutuhkan waktu sekitar lima sampai tujuh tahun.

Dengan kebutuhan air yang terus berkembang, BP Batam menghadapi dua pekerjaan sekaligus: menjaga pasokan bagi warga yang terdampak saat ini dan menyiapkan sumber air baru untuk masa depan. Percepatan infrastruktur, diversifikasi sumber pasokan, serta kewajiban pengelolaan air mandiri bagi industri menjadi bagian dari upaya menjaga agar pertumbuhan Batam tidak mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat. (*)

banner 325x300
Carousels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *