Kepri  

36 Wartawan Ikuti UKW PWI Kepri, Integritas Jadi Penentu

Direktur UKW PWI Aat Surya Safaat mengingatkan peserta UKW PWI Kepri untuk mengandalkan kemampuan sendiri dan tidak menggunakan AI selama ujian.
banner 120x600
banner 468x60

berita1.id, Kepri – Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Riau (Kepri) tak hanya menguji kemampuan teknis jurnalistik. Integritas peserta selama menjalani seluruh tahapan ujian juga menjadi bagian penting dalam menentukan profesionalisme seorang wartawan.

Hal itu ditegaskan Direktur UKW PWI, Aat Surya Safaat, saat memberikan pengarahan kepada peserta UKW PWI Kepri di Balairung Sari BP Batam, Jumat (18/9). Menurutnya, kemampuan menghasilkan karya jurnalistik harus berjalan beriringan dengan kejujuran dan kepatuhan terhadap etika profesi.

banner 325x300

“Peserta tidak diperbolehkan menggunakan artificial intelligence (AI) selama pelaksanaan ujian. Kalau ketahuan menggunakan AI, itu berkaitan dengan integritas peserta,” tegas Aat.

UKW PWI Kepri digelar selama dua hari, Jumat-Sabtu (18-19/9). Sebanyak 36 wartawan ambil bagian dalam ujian yang terbagi dalam tiga jenjang, yakni 15 peserta Muda, 14 Madya, dan 7 Utama.

Aat mengatakan, seluruh peserta diminta mengikuti setiap tahapan ujian dengan kemampuan sendiri. Penguji, kata dia, cukup berpengalaman untuk melihat apakah hasil karya yang dibuat peserta benar-benar mencerminkan kemampuan yang ditunjukkan selama proses ujian.

“Pengalaman menguji wartawan di berbagai daerah membuat penguji dapat melihat ketidaksesuaian antara kemampuan peserta dengan hasil tulisan yang dibuat,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pernah menemukan peserta yang kesulitan ketika menjalani tahapan ujian. Namun, pada tahapan berikutnya peserta tersebut tiba-tiba menghasilkan berita, feature, atau tajuk dengan kualitas bahasa yang jauh berbeda dari kemampuan yang ditunjukkan sebelumnya.

“Kami sudah berpengalaman menguji, sehingga penggunaan artificial intelligence akan mudah diketahui,” katanya.

Selain integritas, Aat mengingatkan peserta untuk memberikan perhatian serius terhadap materi hukum pers, Kode Etik Jurnalistik, serta berbagai peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan pers.

Peserta jenjang Muda dan Madya masing-masing akan menghadapi 11 mata uji. Sementara jenjang Utama terdiri dari 10 mata uji. Materi hukum dan etika tersebut sebelumnya juga telah diberikan dalam kegiatan pra-UKW.

“Yang paling penting adalah mata uji 1.1, 2.1, dan 3.1 yang berkaitan dengan hukum pers, Kode Etik Jurnalistik, serta peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan pers,” jelas Aat.

Kemampuan mengolah informasi menjadi karya jurnalistik juga menjadi bagian penting dalam ujian. Pada jenjang Muda, misalnya, peserta akan diuji melalui penulisan berita berdasarkan hasil wawancara maupun doorstop.

Aat mengingatkan peserta agar tidak hanya memindahkan pernyataan narasumber ke dalam sebuah berita. Wartawan dituntut mampu menggali informasi lebih jauh sehingga berita yang dihasilkan memiliki konteks dan informasi yang cukup.

“Peserta juga harus mampu memperkaya informasi. Misalnya mencari informasi tambahan, mencantumkan narasumber lain, atau mengaitkan dengan pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya,” katanya.

Menurut Aat, berita yang baik harus menyajikan informasi yang cukup dan berimbang. Karena itu, kemampuan menggali, memverifikasi, serta mengolah informasi menjadi salah satu ukuran kompetensi seorang wartawan.

Hal serupa berlaku dalam penulisan feature. Aat mengingatkan peserta agar tidak terpaku pada pola penulisan berita langsung. Feature memberikan ruang yang lebih luas bagi wartawan untuk mengembangkan sudut pandang dan gaya penulisan, namun tetap berpegang pada prinsip jurnalistik.

“Feature tidak terikat secara ketat pada pola 5W+1H seperti berita langsung. Feature dapat dimulai dari sesuatu yang atraktif dan diakhiri dengan sesuatu yang impresif,” ujarnya.

Sementara dalam penulisan tajuk, peserta dituntut mampu memahami persoalan yang sedang berkembang, baik berkaitan dengan kebijakan maupun fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Tajuk menjadi tulisan yang mencerminkan pandangan atau sikap redaksi terhadap suatu persoalan.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan menuangkannya dalam tulisan menjadi bagian penting dari profesionalisme wartawan. Aat kemudian mengutip ungkapan filsuf Prancis, “Aku berpikir karena aku menulis.”

Menurutnya, ungkapan tersebut relevan dengan profesi wartawan yang dituntut tidak sekadar mampu menulis, tetapi juga berpikir kritis, mengolah informasi, dan menghasilkan karya jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di akhir arahannya, Aat meminta seluruh peserta mengikuti UKW dengan percaya diri sekaligus tetap menjunjung tinggi integritas selama proses ujian.

“Kalau saya melihat wajah para peserta, semuanya tampak optimistis. Kalau kita optimistis dan memancarkan optimisme itu kepada alam, maka alam akan kembali memancarkan energi positif kepada kita,” tutupnya. (*)

banner 325x300
Carousels

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *