Batam  

Blackout Ganggu Batam, Akademisi Desak Audit Infrastruktur Listrik

Akademisi Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam, Dr. Sumardin, SE., M.Si.
banner 120x600
banner 468x60

berita1.id, Batam – Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda Batam menjadi alarm serius bagi keandalan pasokan energi di kota industri ini. Gangguan yang berlangsung berjam-jam tersebut tak hanya mengusik aktivitas masyarakat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan industri, perbankan, dan logistik yang menjadi penopang ekonomi Batam.

Akademisi Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam, Dr. Sumardin, SE., M.Si., menilai gangguan listrik berskala luas tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan teknis semata. Keandalan listrik, menurut dia, merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan daya saing Batam sebagai kawasan industri serta pusat investasi.

banner 325x300

“Batam didesain dengan regulasi khusus sebagai kawasan industri dan pusat manufaktur. Ketika listrik padam total hingga berjam-jam, kerugiannya tidak hanya kulkas warga yang mati, tetapi miliaran rupiah pada sektor industri, perbankan, dan logistik yang terhenti,” ujar Sumardin.

Menurut dia, gangguan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi PT PLN Batam untuk mengevaluasi sistem kelistrikan secara menyeluruh. Pembenahan tidak cukup dilakukan setelah gangguan terjadi, tetapi harus diarahkan pada upaya pencegahan agar kerusakan di satu titik tidak berujung pada pemadaman yang berdampak luas.

Sumardin juga mengkritik pola penanganan gangguan yang dinilainya masih cenderung reaktif. Ia menilai perusahaan perlu memperkuat pemeliharaan dan memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi potensi masalah sebelum berkembang menjadi gangguan besar.

“PLN Batam terkesan terjebak pada pola reaktif, menunggu ada kerusakan baru sibuk perbaikan, bukan proaktif melakukan pencegahan sistemik berbasis prediksi risiko,” katanya.

Untuk memperbaiki keandalan pasokan listrik, Sumardin menawarkan tiga langkah pembenahan. Pertama, mempercepat modernisasi jaringan melalui penerapan smart grid atau jaringan listrik pintar.

Teknologi tersebut memungkinkan kondisi jaringan dipantau secara lebih cepat sehingga gangguan dapat dideteksi dan diisolasi pada titik tertentu. Dengan begitu, dampak kerusakan di satu bagian jaringan diharapkan tidak meluas ke wilayah lain.

Selain itu, ia mendorong penguatan sistem pasokan cadangan atau redundancy system. Sistem ini diperlukan agar aliran listrik dapat dialihkan melalui jalur alternatif ketika salah satu bagian jaringan mengalami gangguan.

Kedua, Sumardin meminta audit berkala terhadap aset vital kelistrikan, mulai dari pembangkit, gardu induk, hingga jaringan transmisi. Pemeriksaan, menurut dia, perlu dilakukan secara menyeluruh dan disertai evaluasi independen untuk memastikan infrastruktur berada dalam kondisi andal.

Perhatian juga perlu diberikan terhadap faktor eksternal yang berpotensi mengganggu instalasi. Pemeliharaan jalur transmisi, termasuk pembersihan ruang bebas jaringan atau right of way (ROW), serta perlindungan di sekitar fasilitas vital dinilai penting untuk menekan risiko gangguan berulang.

Ketiga, PLN Batam diminta membenahi komunikasi kepada pelanggan saat terjadi pemadaman. Informasi mengenai penyebab gangguan, wilayah terdampak, perkembangan penanganan, dan perkiraan waktu pemulihan perlu disampaikan secara jelas dan berkala.

Kepastian informasi menjadi penting ketika masyarakat dan pelaku usaha harus menyesuaikan kegiatan mereka dengan kondisi pasokan listrik. Tanpa pembaruan yang memadai, pelanggan berisiko bergantung pada informasi simpang siur yang beredar di tengah situasi darurat.

Sumardin juga menyoroti pentingnya transparansi kompensasi bagi pelanggan yang terdampak. Ia mendorong agar mekanisme pemberian kompensasi dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan prosedur yang jelas dan mudah dipahami pelanggan.

Menurut dia, mekanisme kompensasi melalui tagihan bulanan dapat menjadi salah satu bentuk akuntabilitas perusahaan apabila pelanggan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Tak hanya PLN Batam, Sumardin turut meminta Pemerintah Kota Batam, BP Batam, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperketat pengawasan terhadap tata kelola kelistrikan. Evaluasi, kata dia, perlu mencakup keandalan infrastruktur, kesiapan menghadapi gangguan, serta keterbukaan informasi kepada masyarakat.

Ia mengingatkan, pasokan listrik yang stabil merupakan kebutuhan mendasar bagi Batam yang terus diposisikan sebagai kawasan industri dan tujuan investasi. Gangguan berkepanjangan berpotensi menambah beban operasional pelaku usaha sekaligus memengaruhi persepsi investor terhadap kesiapan infrastruktur kota ini.

“Listrik adalah urat nadi perekonomian Batam. Jangan sampai ambisi besar menarik investor internasional kandas hanya karena kita tidak mampu mengelola stabilitas energi,” tutupnya. (*)

banner 325x300
Carousels

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *