Batam  

Limbah Tahu Diduga Dibuang ke Drainase, Warga Keluhkan Genangan dan Bau

Permukiman warga yang berada tak jauh dari lokasi usaha pembuatan tahu di Kampung Belian. Warga mengaku terganggu bau limbah dan asap pembakaran kayu.
banner 120x600
banner 468x60

berita1.id, Batam – Warga RT 003/RW 002, Kampung Belian, Kelurahan Belian, mengeluhkan aktivitas sejumlah usaha pembuatan tahu yang berada tak jauh dari permukiman mereka. Warga menduga limbah sisa produksi dibuang ke saluran drainase yang melintasi kawasan padat penduduk.

Kondisi tersebut disebut warga menimbulkan bau tidak sedap, membuat nyamuk semakin banyak, hingga dikhawatirkan mengganggu kesehatan. Keluhan paling terasa bagi warga yang rumahnya berada di sekitar saluran drainase.

banner 325x300

“Sangat-sangat terganggu, Bang, apalagi kalau di rumah kita ada bayi. Tentunya sangat berpengaruh terhadap bayi kami. Bau yang menyengat, apalagi saat kemarau, dan nyamuk sangat banyak karena limbah tahu ini dibuang ke drainase yang posisinya sangat dekat dengan rumah kami. Ini sudah berlangsung lama,” ujar salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.

Menurut warga, persoalan tersebut semakin mengganggu ketika hujan deras turun. Saluran drainase yang diduga tersumbat sisa limbah produksi membuat air meluap dan mengalir ke sejumlah rumah.

Tak hanya menimbulkan genangan, air yang meluap tersebut juga membawa aroma tak sedap. Kondisi itu disebut warga semakin terasa ketika cuaca panas atau musim kemarau.

Selain limbah cair, warga juga mengeluhkan asap dari dapur produksi tahu yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Asap pembakaran disebut menyebar ke kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas sehari-hari warga.

“Ya seperti inilah setiap hari, Mas. Asap dari dapur pabrik tahu itu sangat mengganggu pernapasan. Seperti saat ini, mata terasa perih. Abu dari sisa pembakaran kayu juga ke mana-mana. Kalau pakaian dijemur, sering kotor karena abu yang menempel dari sisa pembakaran. Pakaian juga menjadi bau asap,” ungkap warga lainnya.

Warga menyebut persoalan tersebut bukan baru terjadi. Mereka mengaku telah beberapa kali merasakan dampak dari aktivitas produksi tahu yang berada di sekitar permukiman.

Bahkan, warga mengaku pernah menyampaikan keberatan secara langsung kepada pemilik usaha. Namun, mereka menilai respons yang diterima belum menyelesaikan persoalan yang dikeluhkan.

“Kami selaku warga pernah protes ke pemilik pabrik tahu, namun pemilik pabrik tahu mengatakan dia pemilik lahan dan selaku RW di lingkungan tersebut. ‘Saya yang punya lahan di sini, saya yang berkuasa,’” ujar warga tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aktivitas produksi tahu memang berada di sekitar permukiman warga. Warga juga menduga dapur produksi belum dilengkapi cerobong asap yang memadai untuk mengendalikan asap hasil pembakaran kayu.

Asap dari proses produksi terlihat berpotensi menyebar ke lingkungan sekitar, terutama ketika kegiatan pembakaran berlangsung. Kondisi inilah yang menjadi salah satu keluhan warga karena rumah-rumah berada cukup dekat dengan lokasi produksi.

Warga berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. Mereka meminta aktivitas usaha tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Kami bukan melarang orang berusaha. Tapi kami juga punya hak untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman dan tidak terganggu limbah maupun asap,” harap salah seorang warga.

Sementara itu, pemilik usaha pembuatan tahu, Wiro, membantah jika persoalan tersebut merupakan masalah yang dirasakan seluruh warga. Ia mengatakan usaha pembuatan tahu miliknya telah beroperasi selama sekitar 30 tahun.

Wiro juga menyebut terdapat tiga pabrik tahu di kawasan tersebut. Menurut dia, tidak semua usaha yang ada menjalankan aktivitas sesuai prosedur.

“Di sini ada tiga pabrik tahu, yang sesuai prosedur ada, yang tidak sesuai prosedur juga ada. Pabrik tahu kami dah 30 tahun, masyarakat belum ada kami dah ada,” ujar Wiro.

Ia juga menyebut keberatan terhadap keberadaan usaha pembuatan tahu hanya datang dari sebagian kecil warga. Wiro yang juga mengaku sebagai ketua RW di lingkungan tersebut mengatakan kondisi masyarakat secara umum tetap rukun.

“Yang masalah paling satu kampung dua orang saja. Di sini saya ketua RW-nya. Semua warga di sini rukun dan damai, sudah kayak saudara. Tidak ada masalah di sini,” ujarnya.

Keluhan warga tersebut telah disampaikan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam. Kepala DLH Kota Batam Dohar Mangalando Hasibuan mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan pengecekan ke lokasi.

“Terima kasih informasinya, nanti kami cek ke lokasi,” ujar Dohar singkat.

Pengecekan DLH diharapkan dapat memastikan kondisi sebenarnya di lapangan, termasuk dugaan pembuangan limbah ke saluran drainase serta dampak asap pembakaran terhadap lingkungan permukiman.

Hingga pengecekan dilakukan, warga berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius agar aktivitas produksi tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan dan kualitas lingkungan masyarakat sekitar. (*)

banner 325x300
Carousels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *